Perspektif : Kalau Saja Kita Kita Bisa Melihat Emisi CO2 Sebagai Peluang, Bukan Ancaman

Sebagai turunan dari produk Paris Agreement, Indonesia telah memperbaharui Nationally Determined Contribution (NDC) -nya menjadi 32% atau setara penurunan emisi 912 juta ton pada tahun 2030. Ini tugas berat yang menjadi janji kepada dunia yang sudah disetujui pemerintah kita untuk kita mampu mencapainya.

Janji ini kemudian akan diturunkan untuk menjadi kewajiban masing-masing sektor, hingga seluruh pelaku usaha – terutama bagi yang dalam aktivitasnya mengeluarkan CO2 dalam volume yangbesar, seperti pembangkit listrik, pabrik semen, pabrik baja, produsen bahan bakar, pengelola lokasi komersial dan lain sebaginya, semua akan kena dampak ini.

Namun tergantung pada bagaimana perspektif kita melihat CO2 ini, bagi yang melihatnya sebagai masalah – maka ini akan menjadi beban berat bagi siapapun yang harus memikulnya, dua pemerintahan pasca 2024 harus bisa memikul beban berat ini untuk menjaga martabat janji kita kepada dunia.

Sebaliknya, bila kita bisa melihat CO2 sebagai sumber daya, maka ini bisa menjadi peluang pertumbuhan ekonomi kita yang terbesar bukan hanya sampai 2030 tetapi hingga 2050 setidaknya. Kita akan bisa bener-bener menjadi bangsa yang berperadaban maju bila kita mampu mengolah CO2, merubahnya dari beban menjadi aset, dari ancaman menjadi peluang.

Untuk sekedar gambaran sebesar apa sih CO2 sebanyak 912 juta ton itu? Bila bisa kita tangkap seluruhnya dan diubah menjadi bahan bakar pengganti minyak bumi, itu setara 5.83 juta barrel per day (BPD) atau sekitar 9 kali rata-rata produksi minyak nasional kita hari ini.

Bila seluruhnya kita tangkap dan kita ubah menjadi slow released fertilizer, maka akan cukup untuk menghijaukan 14 juta hektar kita yang gersang plus menjaga kesuburan seluruh lahan pertanian yang ada di negeri ini, masih juga bisa bantu negeri-negeri MENA (Middle East and North Afrika) untuk menghijaukan gurun-gurunnya.

Bila kita tangkap dan ubah menjadi nano carbon seperti Carbon Nanotubes (CNTs) dlsb. kita akan memiliki produksi CNTs terbesar di dunia, sekitar 249 juta ton per tahun. Cukup untuk melipat gandakan industri material kita seperti semen dan besi-baja, untuk berproduksi lebih dari dua kali dari yang mereka targetkan untuk tahun 2030.

Hingga kini kita bisa membedakan negara maju dengan yang berkembang adalah dengan melihat apakah kota-kotanya bisa mengatasi masalah sampah, di negara maju kota-kotanya bersih, sebaliknya di negara berkembang tumpukan sampah di sudut-sudut kota dianggap lumrah. Nah menjelang tahun 2030 dan seterusnya, pembedanya akan bertambah satu lagi, yang maju akan mampu menangani emisi CO2 menjadi aset, sebaliknya yang berkembang akan terus tertatih-tatih memikulnya sebagai beban!

Semua teknologi insyaAllah sudah siap, tinggal perpektif kita yang harus mulai kita rubah, bahwa emisi CO2 adalah sumber daya yang ada di depan mata kita yang harus kita mulai olah.

penulis : Muhaimin Iqbal

Share the Post:

Related Posts

Bali NetZero School

Karena industri fosil sudah well established lebih dari satu abad, segala macam keahlian di bidang initentu sudah sangat banyak dan

Read More